-->

Welcome!

I am Karnoto Founder Maharti Networking

Catatan Kontak

Skill

Literasi
Branding
Komunikasi
Who am i

Karnoto

Founder Maharti Networking

Lahir di Brebes, Provinsi Jawa Tengah pada 02 Mei 1980. Menamatkan pendidikan SD sampai SMA di Kabupaten Brebes.

Mantan Jurnalis Radar Banten (Jawa Pos Group), Majalah Warta Ekonomi Jakarta. Pernah studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ. Mercu Buana, Jakarta. Penulis buku Speak Brand, CEO PT Maharti Citra Media .

Networking

Maharti Publishing

Bergerak dibidang publishing dan pendampingan menulis.

Selengkapnya Klik Disini
Maharti Citra Media

Bergerak dibidang media Online, e- magazine.

Selengkapnya Klik Disini
Maharti Brand

Konsultan branding personal, produk, corporate branding.

Selengkapnya Klik Disini
Maharti Mall

Mall online yang menjual berbagai macam produk

Selengkapnya Klik Disini

Catatan

Infotainment Politik


Ahmad Sobari pernah menulis artikel berjudul salon politik. Dalam tulisannya, Sobari menggambarkan bahwa politisi itu rajin nyalon, bukan nyalon dalam artian sesungguhnya tetapi nyalon dalam konteks membangun citra dan persepsi.


Dan dalam dunia politik kita tidak bisa lepas dari apa dua kata di atas, yaitu citra dan persepsi. Meskipun terjemahan teknis soal keduanya bisa beragam, ada yang berupa komunikasi visual, public relation, advertising, event maupun media planning.


Dan faktanya memang demikian, karena politik itu butuh infotainment. Ada konflik, ada emosi, ada peran antagonis dan lain sebagainya. Kalau orang mungkin sering menyebutnya social engenering. 


Apa pun istilahnya substansinya sama yaitu membangun persepsi, memengaruhi opini dan strategi komunikasi. Pertanyaanya apakah masih laku infotainment politik di era sekarang ?


Kalau saya katakan masih, bahkan laku banget! Ada yang bilang ke saya begini, tapia kan sekarang banyak pemilih milenial, pemilih rasional.


Coba kita pelajari lagi karakter milenial di Indonesia dengan di negara maju, pasti ada perbedaan substansi yang jauh berbeda. Atau Anda cermati mereka para milenial ketika menyikapi politik?


Anda kaitkan dengan fenomena politik saat ini, dimana banyak isu strategis, isu serius bahkan sebagian besar isu itu menyangkut nasib para milenial dimasa mendatang, bagaimana mereka bersikap, merespon semua  fenomena politik yang serius itu.


Ternyata milenial yang punya nyali, punya artikulasi dan fikiran untuk merespon fenomena politik kecil banget prosentasenya. Inilah yang membuat saya punya keyakinan bahwa infotainment politik masih laku bahkan laku keras.


Milenial lebih banyak mengisi ruang - ruang hiburan, komedia tetapi sedikit dari mereka yang konsen dengan persoalan njilmet dalam politik. Padahal fakta sejarah, tidak ada perubahan besar yang diprakarsai oleh generasi lucu - lucuan.


Perubahan selalu dimotori oleh mereka para generasi serius yang terbiasa bercengkrama dengan urusan sosial politik yang njlimet, karena itulah yang akan memacu kedewasaan mereka.


Jadi saya berpandangan bahwa infotainment politik masih akan tetap laku, laku banget meskipun milenial akan mendominasi pemilih pada Pemilu 2024. Kalau milenial saja bisa disuntik dengan infotainment apalagi pemilih di lapisan grasroot, itu sudah bisa dipastikan.

Pasukan Jari Jemari Di Balik Kemenangan Palestina


Detik - detik  kemenangan Palestina atas Israel terjadi sejumlah peristiwa yang bombastis sekaligus strategis. Dukungan terhadap Palestina dari dunia Eropa bahkan Amerika Serikat luar biasa masif. Ini tidak terjadi pada pertempuran sebelumnya.


Saya percaya Israel bukan dikalahkan hanya oleh senjata, meski kubah besinya jebol tapi Israel punya pengasuh yang penyayang, yaitu AS. Perkiraan saya kalau cuma masalah senjata Israel bisa mengatasinya, tapi pengepungan psikis dunia membuat Israel terpaksa angkat bendera putih alias menyerah.


Israel terpaksa mengalah justru karena tekanan psikis, tekanan opini yang memaksa Israel menurunkan gengsinya. Aksi pasukan jari jemari di jagad maya yang menyerang Israel khususnya dari Eropa dan AS membuat Israel kalang kabut. Israel berupaya memadamkan jalur informasi aksi di sosial media dengan "ngajak ngopi" owner Facebook dan platform sosial media lainnya.


Alih - alih facebook bisa menolong Israel justru  digebuki, dikeroyok aktivis sosmed di dunia hingga terkapar. Dunia ramai - ramai menggerakan jari mereka dengan satu klik, yaitu mengklik bintang satu. Facebook pun tersungkur,  loyo dan sempoyongan melawan komunitas sosial media, pasukan yang tidak diperkirakan sebelumnya.


Pada aplikasi OmeTV, orang Israel selalu dicecar pertanyaan mengapa menyerang Palestina. Hampir semua aktivis muslim dan non muslim yang aktif si OmeTV pasti akan meluncurkan pertanyaan di atas setiap kali ngobrol dengan orang Israel.


Tekanan psikis pun datang dari Erdogan yang menggertak Israel dengan mengajak Vladimir Putin "ngopi bareng" sembari ngobrolin bagaimana Israel diberi pelajaran karena ulahnya.


Mungkin kalau Erdogan cuma mengajak Malaysia, Yordania, Iran akan lain ceritanya, tapi yang diajak ngopi adalah Rusia, jelas persenjataan Rusia Israel pasti tahu, bahaya kalau sampai Rusia salaman dan deal dengan Erdogan lalu mengeksekusi serangan ke Israel, bisa game over Israel.


Tekanan psikis juga datang dari China, dalam berita di Voa, China uring uringan kepada Amerika Serikat atas hak vetonya terhadap Israel. China jelas pada posisi kebetulan, aji mumpung untuk ngepret AS  kesekian kalinya, setelah sebelumnya cekcok urusan virus Covid -19.


Tekanan selanjutnya juga datang dari para ahli cyber terutama mereka yang jago ngobrak ngabrik pertahanan cyber, salah satunya adalah yang beredar di media berhasilnya hacker Malaysia menjebol bigdata Israel.


Israel benar - benar terpojok dan klieng- klieng dan ga bisa diobati hak vetonya AS. Kian hari kepala Israel semakin muter dan tambah mubeng ketika pertahanam kubah besinya jebol oleh rudal Hamas. Infrastruktur Israel hancur.


Pada bagian lain, daya tahan dan kecerdasan Hamas membaca sistem pertahanan Israel membuat Israel mesti berhitung ulang, dilanjut atau ngaso dulu nih perang. Dan pilihannya adalah rehat serta memenuhi permintaan Hamas untuk balik kanan meninggalkan Masjid Al Aqsa.


Benar kata ahli sejarah Islam, Budi Azhari bahwa perang dengan Israel itu tidak seseru melawan kaum Arab. Karena tabiat Israel itu perangnya ngumpet atau bersembunyi. Makanya asalkan dikepung, Israel pasti nyerah.


"Makanya surat yang menceritakan kekalahan Yahudi itu ada dalam Qur'an, namanya Surat Al Hasyr, artinya pengepungan," kata Budi Azhari.

Dan perang saat ini Israel benar - benar dikepung, dari arah Palestina Israel harus nyiapin stok senjata melawan Hamas, di sosial media Israel digempur, diuleg dan dipecel dari berbagai arah bahkan di eropa termasuk AS.


Dari Turki dia digertak oleh Erdogan yang "ngajak ngopi" Vladimir Putin dan dari di sekeliing wilayah Israel dihantui oleh Yordan dan Lebanon. Benar benar terkepung kali ini Israel dan akhirnya memilih menyerah, meski saya yakin kapan waktunya Israel pasti akan berisik lagi dan mengganggu dunia yang lagi galau menghadapi Covid -19.

Daya Tahan Perempuan Palestina


Hidup dalam suasana perang tentu saja ada tangis, kesedihan dan kepiluan. Dan itu pasti mewarnai rakyat Palestina termasuk perempuan Palestina.


Sudah berapa banyak wanita Palestina yang terpaksa menjanda karena suaminya syahid. Berapa banyak perempuan Palestina kehilangan anak - anaknya, orangtuanya bahkan dirinya sendiri.


Kegetiran ini tentulah bukan hal asing bagi Indonesia karena perempuan Indonesia pun pernah mengalami apa yang dialami perempuan Paletina saat masa penjajahan. Makanya wajar kalau Indonesia benar - benar emosional melihat penjajahan Israel di Palestina karena Indonesia pernah merasakannya.



Perasaan ini kemudian dilegalkan dalam konsensus para pendahulu bangsa dengan kalimat "Bahwa penjajahan di atas muka bumi harus dihapuskan". Karena Indonesia pernah merasakan bagaimana perihnya dijajah.


Perempuan Palestina sadar bahwa tidak pernah tahu kapan perjuangan merdeka negaranya akan berhasil, kapan suar ledakan tak terdengar lagi. Dan pilihannya cuma satu yaitu berjuang.


Mereka juga tahu risiko turun di medan tempur, yaitu kematian. Tapi jalan ini lebih mulia ketimbang terdiam apalagi meratapi dan menyesali, toh ada jaminannya yaitu surga karena masuk kategori mati syahid.



Tak ada kerugian bagi mereka yang berjuang mempertahamkan negaranya, hidup mulia atau mati syahid. Itulah cita - cita tertinggi seorang Muslim. Bukan hidup dalam kehinaan atau mati sia - sia.


Perempuan Palestina ada yang syahid dengan profesi seorang dokter, mahasiswi, ibu, jurnalis dan guru serta lainnya. Dengan persenjataan apa adanya perempuan Palestina bangkit dan melawa.


Senjata mereka terkadang balon udara, ketapel, batu, kamera dan peralatan kesehatan. Sebisa - bisa mereka karena yang terpenting adalah melawan.



Saya semakin paham mengapa Palestina sampai sekarang masih kokok menunjukan perlawanan, salah satunya adalah karena perempuan Palestina adalah pejuang.


Jangan menyangsikan senjata yang mereka gunakan untuk melawan Israel, jelas tidak seimbang. Tapi, bukankah dulu para pejuang Indonesia juga memakai bambu runcing dan merdeka.


Perempuan Palestina meyakini bahwa tugas yang dibebankan kepada mereka adalah berjuang sekuat tenaga, soal kapan merdeka itu urusan Allah swt. Boleh jadi, sampai mereka tua bahkan meninggal masa - masa perjuangan akam tetap ada.

Contact Us

Phone :

+62 859 210 290 49

Address :

Komplek Banjar Agung Indah, Blok F41, No.1-2, Kelurahan Banjar Agung,
Kec.Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com