-->

I'M Karnoto

Founder Maharti Networking

May 10, 2021

Lebaran, Nyadran dan Penyekatan


Tidak ada yang tahu persis kapan kata Lebaran dikenalkan kepada masyarakat, terminologinya sendiri terdapat beberapa versi, diantara versi yang familiar adalah versi yang mengatakan bahwa kata Lebaran mengapodsi dari tradisi Hindu, artinya selesai, usai atau habis.


Konon Wali Songo sengaja menggunakan kata Lebaran dalam setiap momentum Idul Fitri sebagai salah satu cara agar orang Hindu yang baru masuk Islam tidak kaget.


Pendekatan culture semacam ini memang kerap kali dilakukan Wali Songo dalam strategi dakwahnya, termasuk soal kata Lebaran agar mereka tidak asing.


Penjelasan ini disampaikan MA Salmun dalam sebuah artikelnya yang dimuat Majalah Sunda tahun 1954 sebagaimana dilansir Kompas.


Saya tidak apakah kata Lebaran juga ditemukan dalam bahasa Arab atau tidak. Selain versi di atas ada pula yang menterjemahkan kalau kata Lebaran diambil dari Bahasa Jawa yang artinya  Wis Bar" atau sudah selesai.


Dari dua pengertian di atas sebenarnya benang merahnya adalah sama - sama menggunakan pendekatan culture di Indonesia, jangan heran kalau istilah Lebaran hanya dikenal di Indonesia sama halnya dengan mukena.


Soal dakwah dengan metode pendekatan culture memang cukup kental di Indonesia, termasuk istilah nyadran yang dilakukan warga Brebes dan Tegal saat musim Lebaran.


Nyadran adalah aktivitas silaturahim keluarga yang lebih muda kepada mereka yang lebih tua, seperti adik ke kakak dan sebagainya. Ini menjadi semacam keharusan yang dilakukan mereka yang telah berkeluarga.


Selain saling memaafkan, tradisi ini secara makna bertujuan sebagai bentuk penghormatan saudara yang lebih muda kepada saudara yang lebih tua. Tentu saja bukan sekadar mendatangi rumah orang yang lebih tua, biasanya ada sesuatu yang dibawa dan paling wajib adalah gula dan teh selebihnya macam - macam, ada yang isinya kue khas Lebaran di kampung ada pula yang membawa kue modern kalengan karena ingin praktis, tapi yang tidak ketinggalan pasti ada gula dan teh.


Lebaran tahun ini memang berbeda suasananya karena masih musim Pandemi Covid -19. Pemerintah pun mengeluarkan kebijakan pelarangan mudik dan penyekatan khususnya jalur padat pemudik.


Sebenarnya penyekatan ini juga menjadi tradisi, bedanya kalau sebelum Corona lebih fleksibel dan difungsikan untuk memperlancar arus mudik, tapi penyekatan tahun ini khusus untuk menutup agar tidak ada aktivitas mudik.


Sayangnya kebijakan ini dibumbui oleh kedatangan WNA yang menimbulkan persepsi publik bahwa mereka mendapatkan keistimewaan. Tidak hanya itu, pelarangan mudik juga kontraproduktif dengan kebijakan dibolehkanya objek wisata buka termasuk pusat perbelanjaan.


Padahal substansi pelarangan mudik adalah pada konteks kerumunannya. Bukankah aktivitas di objek wisata juga memiliki potensi kerumunan? Bukankah mengizinkan WNA datang juga punya potensi berbahaya penyebaran virus?


Itulah deretan pertanyaan sekaligus keheranan publik soal kebijakan larangan mudik. ****

Karnoto,Founder Maharti Networking.Eks.Jurnalis, pernah studi Ilmu Marketing Communication Advertising Univ.Mercu Buana Jakarta, Penulis Buku Speak Brand

0 komentar:

Kata Mereka

Chat Whatsap

Contact Us

JOHN DOE
085921029049
Kota Serang, Banten