-->

I'M Karnoto

Founder Maharti Networking

May 17, 2021

Tak Cuma Perang Fisik, Rakyat Palestina juga Perang Opini

Rakyat Palestina memang harus memiliki stamina ekstra karena bukan saja menghadapi serangan fisik dari Israel, tetapi mereka juga harus menghadapi perang syaraf melalui opini. Beberapa tahun silam mungkin rakyat Palestina dan sebagian umat Islam di dunia belum menyadari kalau mereka (rakyat Palestina) harus menghadapi dua perang sekaligus dalam waktu bersamaan, yakni perang fisik dan perang opini.


Tetapi beberapa tahun terakhir rakyat Palestina dan Muslim di dunia sadar bahwa yang dihadapi bukan saja rudal atau roket, tetapi juga tulisan melalui media yang memaksa dunia membenarkan tindakan Israel. Dan kesadaran kolektif ini semakin meluas seiring dengan adanya sosial media dan media online non mainstream yang bisa membantu opini negatif dan penggiringan opini yang dilakukan Israel dan pendukungnya.


Perang opini semakin terasa pada peristiwa sekarang ini. Timeline twitter, instgram dan facebook tak kalah panasnya dengan perang fisik yang terjadi di Palestina. Ini terjadi di Indonesia saat ini.


Ketika para pendukung melempar "bom" opini bahwa Israel bukan melawan Palestina tetapi melawan teroris yang mereka alamatkan kepada Hamas. Para pendukung Israel sedang membawa opini publik bahwa yang dilakukan Israel adalah pembelaan atas serangan rudal Hamas. 


Pada kasus "Tarawih Berdarah" di Masjid Al Aqsa beberapa hari sebelum Idul Fitri berusaha disenyapkan dan mereka memulai cerita opini dari rudal Hamas yang dikirimkan ke Israel yang lkemudian dibalas oleh Israel dengan mengirimkan roket dan jet tempur.


Israel dapat konten opini pembenaran dengan headline membela diri dari serangan Hamas, peristiwa awal "Tarawih Berdarah di Al Aqsa" mereka tutup dan sembunyikan. Mereka justru memulai ceritanya dari rudal Hamas bukan peristiwa dari "Tarawih Berdarah" di Al Aqsa.


Amerika Serikat sebagai pengasuh Israel pun secara terbuka telah memulai opini tersebut dan disampaikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden secara terbuka yang mengatakan bahwa Israel berhak membela diri atas serangan Hamas dan AS mendukung tindakan Israel yang membombardir Kota Gaza.


Di Indonesia pun para pendukung Israel melakukam hal serupa, yaitu mengikuti irama opini yang didesain Israel. Secara tidak sadar publik digiring dan dipaksa mengiyakan bahwa apa yang dilakukan Israel adalah pembelaan karena diserang Hamas.


Opini kedua yang coba dimainkan Israel adalah menunjukan bahwa Hamas lemah dan kalah. Konten video Palestina yang dikelilingi asap pasca aksi pengeboman melalui jet tempur di Kota Gaza mereka publikasikan.


Video tersebut mereka ambil dari satelit milik Israel. Belakangan video ini kemudian dikutip media mainstream di seluruh dunia dengan judul Palestina Hancur Lebur dengan gambar Kota Gaza yang dikelilingi kepulan asap.


Pesan utamanya adalah Israel sudah menang, padahal dari posisi Hamas sendiri sebagaimana disampaikan sejumlah pengamat Timur Tengah jauh lebih siap untuk perang saat ini dan terbukti mereka memiliki daya tahan yang kokoh. Ini ditunjukan dengan peluncuran ratusan rudal pada ronde pertama perang dengan Israel tahun ini.


Hamas pasti sudah berhitung soal jumlah rudal karena baru kali ini Hamas meluncurkan ratusan rudal  dalam waktu bersamaan. Bukan saja melawan fisik, Hamas juga berusaha melawan opini dengan membuat video yang intinya menunjukan mereka kokoh dan siap menghadapi Israel. Video rilis tokoh Hamas untuk mentralisir video yang dibuat Israel.


Dilihat dari video yang beredar di sosial media, Israel sepertinya kaget melihat ratusan rudal Hamas yang dikirimkan dan mengenai jantung kota Israel. Kubah besi yang mereka miliki dan diyakini mampu menjadi pelindung dari serangan rudal Hamas ternyata jebol.


Aksi Save Palestina disejumlah negara terutama negara di Eropa semakin membuat Israel khawatir. Jangan heran kalau Israel kemudian mengultimatim jurnalis dari berbagai negara untuk meninggalkan gedung di Kota Gaza yang selama ini dipakai bersama untuk meliput Kota Gaza.


Gedung itu pun tak luput dari sasaran roket Israel. Bukan tanpa maksud Israel membidik para jurnalis independen, sudah bisa ditangkap apa yang diinginkan Israel yaitu memblokir atau mengurangi berita live report peristiwa pengeboman yang dilakukan Israel.


Bahkan beredar di twitter kalau Israel telah mengirimkan petunjuk teknis cara penulisan judul berita untuk isu Palestina sekarang ini. Arahan dari Israel ini bukan cuma arahan, tapi pasti didalamnya akan ada dampak ketika media tersebut mengindahkan arahan Israel.


Video - video yang sekarang beredar mayoritas kiriman dari warga Palestina melalui sosial media. Dan Israel pun terdesak dengan serangan sosial media makanya Presiden Israel pun langsung menghubungi owner facebook. Entah apa yang dibicarakan tapi kita pasti sudah bisa membacanya, yaitu meredam konten Palestina di sosial media terutama konten yang memojokan Israel.

Karnoto,Founder Maharti Networking.Eks.Jurnalis, pernah studi Ilmu Marketing Communication Advertising Univ.Mercu Buana Jakarta, Penulis Buku Speak Brand

0 komentar:

Kata Mereka

Chat Whatsap

Contact Us

JOHN DOE
085921029049
Kota Serang, Banten