-->

June 24, 2021

Mengenal Karnoto Alumni SMAN 1 Larangan ; Dari Jurnalis Sampai Dirikan Jawara Blogger Indonesia

"Menjadi jurnalis itu sebenarnya tidak ada dalam mimpi atau cita - cita saya sejak kecil bahkan sampai lulus SMA. Ini seperti kecelakaan sejarah yang membawa berkah," kata Karnoto. 


PERSPEKTIF.CO.ID, SOSOK - Dikalangan insan pers di Provinsi Banten nama Karnoto tidaklah asing karena ia pernah menjadi jurnalis di Radar Banten (Jawa Pos Group) milik mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Selain itu, Karnoto juga pernah menjadi Ketua Kelompok Kerja Wartawan Harian Kabupaten Serang, Banten. 


Sementara untuk karya jurnalisnya ia pernah menjadi Juara 3 Lomba Menulis "Wiranto Mendengar" tahun 2009 tingkat nasional yang diselenggarakan di Kompas. Kini, pria kelahiran Desa Wanacala, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini mengelola media online sendiri dengan naungan PT Maharti Citra Media.


"Menjadi jurnalis itu sebenarnya tidak ada dalam mimpi atau cita - cita saya sejak kecil bahkan sampai lulus SMA. Ini seperti kecelakaan sejarah yang membawa berkah," kata Karnoto kepada Perspektif, Kamis (24/06/2021).

Pria dengan empat anak ini menceritakan awal mulanya menjadi wartawan ditahun 2001. Saat itu ada pendidikan latihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh Radar Banten Institute dan ia mengikuti pelatihan tersebut.

"Waktu itu sih niatnya ingin belajar menulis saja karena yang menjadi narasumber adalah seorang penulis novel, yaitu Gola Gong dan beberapa jurnalis. Tapi ternyata setelah pendidikan selesai saya direkrut magang sebagai jurnalis di Radar Banten," kenang Karnoto.

Setelah magang selama enam bulan karena kinerjanya dinilai baik maka ia direkrut menjadi jurnalis untuk wilayah tugas di Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Karnoto menuturkan bahwa itu merupakan pengalaman baru karena memang sama sekali tidak punya fikiran akan menjadi seorang jurnalis.

Semula Karnoto mengaku stres karena harus dikejar - kejar deadline dan masih baru sehingga lelet untuk menulis berita. "Bukan cuma itu stresnya, mengejar narasumber sementara dikejar deadline, wah udah deh itu benar - benar stres sebenarnya. Tapi saya mencoba menguatkan diri dan akhirnya terbiasa sampai sekarang dengan dunia jurnalis," kata Karnoto.

Karnoto menceritakan alasan mengapa dia bertahan menjadi jurnalis meskipun sempat stres. Suatu ketika ia menulis feature (berita dengan gaya penulisan sastra) tentang suatu sekolah madrasah diniyah di sebuah desa di Kota Serang, Banten.


"Iya waktu itu saya menulisnya dengan penuh perasaan dan naik di halaman utama koran cetak Radar Banten. Nah kan banyak yang dibaca tuh, lalu ada orang tersentuh dan menghubungi kantor menanyakan lokasi persisnya madrasah itu," kenangnya.


Rupanya, kata Karnoto, orang tersebut tersentuh dan mau membantu madrasah tersebut dua truk meja kursi. "Nah dari situ saya merasakan bahwa ternyata menulis itu berdampak luar biasa bagi perubahan makanya saya kemudian bertahan dan semangat," kata pria yang pernah aktif menjadi Mahasiswa Pecinta Alam ini.


Selain itu, kata dia, menjadi jurnalis banyak hal yang sebelumnya tidak terfikirkan itu terjadi, seperti naik pesawat Garuda Indonesia gratis, nginep di hotel gratis dan bisa jalan - jalan gratis.


"Termasuk akrab dengan yang namanya Bupati, Ketua Dewan dan dewan, kepala dinas, pimpinan perusahaan itu kalau kita wartawan kan kaya teman aja. Di WA mereka pasti balas, sering makan bareng, ngopi bareng dan ngobrol juga elegan karena kita dengan mereka saling membutuhkan," kenangnya.


Masa Pendidikan
Secara akademik sejak SD hingga SMA Karnoto bukanlah bintang sekolah karena nilainya biasa - biasa saja. Ia mengaku bahwa dirinya lemah dalam hal statistik atau hal yang ada kaitannya dengan angka. "Iya benar, saya kalau pelajaran matematika, fisika, kimia itu stres sebenarnya. Dapat enam saja sudah Alhamdulillah, ha ha ha," akunya.

Diceritakan Karnoto bahwa persepsi sebagian orang dulu ditahun 1990 an berbeda dengan sekarang. Kalau dulu ketika ada siswa yang mendapatkan nilai matematika lima itu dianggapnya bodoh.

 

"Kalau sekarang kan sudah beda dunianya, pendidikan lebih banyak memberikan ruang kepada anak dengan kecerdasan dan keunikannya masing - masing. Ada yang cerdas bahasa atau lingustik, cerdas matematik, cerdas seni, cerdas komunikasi dan cerdas bisnis dan lain sebagainya. Lebih banyak ruangnya lah tidak horor seperti dulu. Tapi tetap bagaimanapun guru - guru saya dulu luar biasa, mereka benar - benar banyak kontribusinya untuk saya," katanya.


Karnoto sendiri merupakan alumni SMP Negeri 1 Jatibarang, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Ada kenangan unik saat masih SMP karena selama tiga tahun ia harus berangkat menggunakan sepeda. "Yah, jarak dari rumah kampung saya ke sekolah kurang lebih tujuh kilometer ya. Dan itu saya lakukan selama tiga tahun, tapi seneng sih karena dulu kan banyak teman yang pakai sepeda juga malah menjadi kenangan indah," kata Karnoto.


Diceritakan Karnoto, saat kelas satu dirinya beruntung karena dikelasnya terdapat bintang sekolah, jadi dulu kelas 1E  kelasnya cukup terkenal. "Iya, meskipun saya siswa biasa saja tapi karena ada bintang kelasnya jadi terkenal. Waktu itu saya kelas IE, saya masih ingat lokasi kelasnya dekat kantor," katanya.


Usai lulus SMP N 1 Jatibarang tahun 1996, Karnoto semula mendaftar ke SMA N 1 Brebes tetapi karena Nilai Ebtanasnya tidak memenuhi maka digeser ke SMA N 2 Brebes. Semula di SMAN 2 Brebes ia masuk, tetapi selang beberapa hari pihak sekolah menaikan nilai minimal NEM yang diterima.


"Dulu sempat masukin daftar di SMN 2 Brebes tetapi ternyata diujung pendaftaran pihak sekolah menaikan nilai minimal NEM dan akhirnya saya pindahin ijazah dan daftar ke SMAN 1 Larangan Brebes," kata Karnoto.


Di SMAN 1 Larangan, Karnoto merupakan angkatan ketiga karena sekolah tersebut ditahun 1997 masih baru. "Waktu itu sih kan masih baru tapi sekolah terus terang saja meskipun di kampung tapi keren sejak dulu terutama soal keindahan dan kerapihan sekolah," tutur Karnoto.


Dikatakan Karnoto, saat di SMA pihak sekolah mewajibkan siswa bertanggungjawab terhadap taman yang ada di belakang dan depan kelasnya masing - masing. "Ya, jadi dulu tuh kan di semua kelas depan belakangnya ada tamannya. Nah itu tuh jadi tanggungjawab kelas tersebut, keren sih bener bener keren," kata Karnoto.


Melanjutkan Kuliah
Usai lulus SMA di SMN 1 Larangan Brebes, Jawa Tengah, Karnoto merantau ke Provinsi Banten dan sempat kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK Serang ) Jurusan Akuntansi Komputer. Kuliahnya tidak dilanjut karena terlalu keasyikan dengan profesi sebagai jurnalis dan jurusan studinya pun kecelakaan karena tidak ia sukai.


"Jadi dulu tuh SMTIK cuma punya dua jurusan, teknik informatika dan akuntansi komputer. Dua - duanya ga ada yang saya suka, tapi daripada ga kuliah maka saya ambil saja Akuntansi Komputer, ha ha ha ha," kenangnya.


Ditengah perjalanan ia pun melepas kampus tersebut dan kuliah lagi di Universitas Mercu Buana, Jakarta. Di kampus yang berada di Meruya, Jakarta Barat ini Karnoto mengambil Fakultas Komunikasi Jurusan Marketing Communication Advertising.


Semasa kuliah Karnoto aktif disejumlah organisasi kampus, diantaranya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Mahasiswa Pecinta Alam, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Korps Suka Rela (KSR).


Mendirikan Jawara Blogger Indonesia
Selain mendirikan media online, Karnoto sekarang juga menjadi founder atau pendiri Jawara Blogger Indonesia. Networking para blogger ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Karnoto sendiri merupakan seorang blogger sejak tahun 2000 an karena memang ia hobi menulis.


Salah satu hasil karya bukunya adalah Speak Brand, yaitu buku yang mengulas tentang branding, mulai dari personal branding, coroporate branding, city branding hingga marketing politik. 


Jawara Blogger Indonesia sengaja ia dirikan untuk memberikan ilmu yang ia dapatkan selama ini kepada orang lain secara cuma - cuma. "Di Jawara Blogger Indonesia teman - teman saya ajari bagaimana menjadi seorang blogger profesional dan menghasilkan uang. Dan saya berikan secara cuma - cuma alias gratis," kata Karnoto.


Di Jawara Blogger Indonesia para anggota akan diajarkan membuat blogger bagi pemula, pelatihan menulis konten, pelatihan fotography, cara membuat video dan hal - hal terkait dengan dunia blogger. "Mimpi saya dengan Jawara Blogger Indonesia ini adalah bisa melahirkan para blogger profesional. Selain itu saya juga ingin memiliki kampung blogger binaan," katanya.


Bagi Anda yang berminat ingin menjadi anggota Jawara Blogger Indonesia bisa menghubungi ke kontak person Karnoto atau menghubungi website pribadinya di www.karnoto.my.id. "Memang hidup itu terkadang unik. Jadi cara Allah mengantarkan seseorang itu unik makanya percaya deh, jaga shalat lima waktu tepat waktu dan berjamaah, rajin baca istighfar, shalawat maka pasti Allah tuntun kita kepada sesuatu yang tidak terfikirkan sebelumnya oleh kita dan itu ternyata belakangan baik untuk kita," kata Karnoto. ***

Biodata Singkat:
Nama Lengkap : Karnoto
Panggilan : Noto, Oto, Kar
Lahir : Brebes, 02 Mei 1980

Istri : 
Murniawati
Anak :
1. Hazimah Ayu Fadia
2. Zadda Gagah Al Fasya
3. Muhammad Gigih Al Fasya
4, Mafaza Galih Al Fasya

Pengalaman Kerja :
1. Jurnalis Radar Banten
2. Jurnalis Majalah Warta Ekonomi Jakarta

Pekerjaan Sekarang :
1. Founder PT Maharti Citra Media
2. Founder Jawara Blogger Indonesia
3. Praktisi Branding

Karya :
1. Juara 3 Lomba Menulis Tingkat Nasional "Wiranto Mendengar" Tahun 2009
2. Penulis Buku Speak Brand

Website Pribadi :
www.karnoto.my.id


Anda ingin menjadi seorang blogger yang profesional silahkan hubungi saya ke nomor whatsapp 085921029049.

Contact Us

Phone :

+62 859 210 290 49

Address :

Komplek Banjar Agung Indah, Blok F41, No.1-2, Kelurahan Banjar Agung,
Kec.Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten

Email :

karnotogw@gmail.com