-->

I'M Karnoto

Founder Maharti Networking

September 26, 2021

Jangan Hancurkan Psikis Anak
Doc/Foto:Tempo

Rian (bukan nama sebenarnya) langsung mengambil tasnya yang dikeluarkan di teras kelas oleh gurunya. Gurunya terpaksa mengeluarkan tas Rian karena dia dianggap membuat suasana belajar di kelas tidak kondusif. Disaat guru mengajar Andi mondar - mandir dalam ruang kelas sehingga mengganggu anak yang lain.

Keesokan harinya, Rian pun tidak berangkat sekolah tanpa alasan yang jelas. Saya mengenal Rian dan kondisi orangtuanya karena beberapa kali terlibat obrolan dengan Ayah Rian. Rian sendiri anaknya memiliki bentuk fisik gemuk, hitam dan tidak rapi.

Melihat fisik dan penampilan Rian sudah bisa ditebak kalau dia berlatarbelakang anak kurang mampu atau paling tidak anak dengan ekonomi pas - pasan. Dia terpaksa berangkat ke sekolah memakai sepeda dengan jarak kurang lebih 5 kilometer, jarak yang menurut saya jauh untuk anak ukuran sekolah dasar. 

Rian pernah dibully dikatain sebagai anak miskin dan dia melawan yang akhirnya terjadi pertengakaran dengan beberapa teman kelasnya yang membuly. Rian pun meludahi anak yang membuli sebagai bentuk perlawanan.

Ayahnya hanya seorang buruh kasar di pabrik mesin dan dengan situasi pandemi Covid - 19 otomatis berdampak serius terhadap ekonominya. Pada kisah lain, ada seorang anak yang ingin iqomat saat hendak Shalat tetapi oleh salah seorang jamaah dicut karena dinilai masih anak - anak dan menurutnya tidak sah selama masih ada orang dewasa.

Dua peristiwa yang menurut saya membuat saya terkadang mengelus dada, betapa hancurnya psikis anak - anak tersebut. Saya merasakan itu karena membayangkan kalau posisi itu menimpa pada anak - anak kita, apa perasaan anak kita termasuk kita sendiri, betapa hancurnya psikis anak anak dan kita sebagai orangtua. 

Saya memperkirakan hal - hal di atas pun terjadi pada anak - anak lain dan sejatinya ini menjadi persoalan serius bagi lembaga pendidikan, orangtua dan pemerintah agar masa depan generasi muda tidak hancur psikisnya.Walaupun sering juga beberapa kasus orang - orang sukses dulunya mengalami buli seperti yang dialami oleh Rian.

Tapi ini spekulasi yang berisiko karena ketahanan psikis anak - anak berbeda dan lebih banyak yang benteng pertahanan psikisnya lemah sehingga ambruk ketika mendapatkan bulian atau cacian. Lembaga pendidikan sekarang sejatinya tidak hanya menempatkan pada konteks industri tetapi mengembalikan filosofi pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa bukan semata - mata profite oriented.

Memang ini kasusitik tetapi saya percaya di pojok - pojok perkampungan dan di sudut perkotaan masih sering ditemukan kasus semacam ini. Makanya pada kasus Rian saya menyampaikan kepada anak - anak untuk mengerti posisi Rian.

"Bayangkan dia berangkat pakai sepeda jauh, kondisi ekonomi orangtuanya juga pas - pasan dan sebenarnya Rian juga tidak menginginkan kondisi seperti itu menimpa dirinya. Makanya kamu berikan support kepada Rian dan berikan pengertian kepada teman - teman kami agar tidak membuli Rian lagi," kata saya kepada anak - anak.

Saya juga sampaikan kepada anak - anak bahwa nasib seseorang tidak ada yang tahu, bisa jadi Rian yang dibuli teman - temannya sebagai anak Si Miskin kelak dia menjadi orang kaya raya. Anak - anak kami mengerti dengan cerita ini dan mereka bisa menjaga hubungan baik dengan teman - temannya, suka berbagi dan terkadang melawan terkadang juga memilih diam. Kemampuan anak - anak kami melihat situasi memang saya ajarkan di rumah, bagaimana bisa "berpolitik" dimanapun agar kita tidak menjadi korban. **

Karnoto,Founder Maharti Networking.Eks.Jurnalis, pernah studi Ilmu Marketing Communication Advertising Univ.Mercu Buana Jakarta, Penulis Buku Speak Brand

0 komentar:

Kata Mereka

Chat Whatsap

Contact Us

JOHN DOE
085921029049
Kota Serang, Banten