-->

I'M Karnoto

Brand Consultant . Content Writer . Content Creator

About Me

Assalamu'alaikum

I'mKarnoto

Founder Maharti Networking

Saya Karnoto. Brand Consultant. Content Creator. Content Writer Content Creativef.

Mantan Jurnalis Radar Banten (Jawa Pos Group), mantan Jurnalis Majalah Warta Ekonomi Jakarta dan Founder BantenPerspektif.

Pernah studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Universitas Mercu Buana, Jakarta.Penulis Buku Speak Brand.

Lahir di Brebes, Jawa Tengah, Provinsi Jawa Tengah. Pernah mendapatkan juara 3 Lomba Menulis Tingkat Nasional "Wiranto Mendengar" tahun 2009.

Branding

Content Creator

Content Writer

Content Creative

Jaringan Usaha

Maharti Citra Media

Bergerak dibidang media online dan Media Internal.

Maharti Brand

Bergerak dibidang jasa branding produk, personal branding.

Maharti Publsihing

Bergerak dibidang jasa penerbitan buku dan majalah.

Maharti School

Bergerak dibidang pendidikan dan pelatihan.

Maharti Mall

Bergerak dibidang ritel online.

Maharti Traveling

Bergerak dibidang jasa Pariwista.

Pengalaman

Jurnalis.

2002-2005

Radar Banten

Pernah menjadi jurnalis di Radar Banten (Jawa Pos Group) dan Ketua Pokja Wartawan Harian Kab.Serang.

Jurnalis.

2010-2011

Majalah Warta Ekonomi

Pernah menjadi jurnalis di Majalah Warta Ekonomi Jakarta dengan job desk, digital economic dan marketing.

Founder.

2020-Sekarang

Maharti Networking

Jaringan usaha yang bergerak dibidang jasa brand consultant, media, publishing, toko online, jasa website dan content creator.

Catatan Harian

Pribadi Merdeka

 


Efek Samping Brand Ambasador Terhadap Imaje Produk


Perilaku seorang brand ambasador jelas akan memiliki efek samping terhadap produk yang ia bintangi. Karena dalam persepsi calon customer seorang bintang iklan adalah representasi dari produk tersebut.

Penulis | Karnoto | Founder Maharti Brand


Memiliki atau menggunakan brand ambasador dalam aktivasi branding sebuah produk bukan tanpa risiko. Saya katakan sangat berisiko terutama ketika brand ambasador tersebut terpeleset atau sengaja melakukan sesuatu terkait norma dan asusila. Hal seperti ini sudah sering terjadi terutama brand yang menggunakan brand ambasador seorang seleberitis.


Dulu pernah terjadi saat Luna Maya dan Cut Tari terlibat kasus asusila dengan Ariel Noah (dulu namanya Peterpen). Nyaris semua produk mencabut kontrak dengan mereka berdua. Hal ini wajar karena pasti akan berimbas pada ekspetasi customer terhadap produk tersebut yang menggunakan jasa iklan mereka.


Dan tahun ini kembali terjadi, kali ini dilakukan Gisella Anastasia, mantan peserta Indonesia Idol yang terkena kasus asulia dengan salah seorang pria. Kasus ini sempat menguap beberapa pekan sebelum akhirnya Gisella membuat pengakuan bahwa video asusila yang beredar di sosial media adalah benar dirinya.


Saya meyakini ini bukan saja berdampak pada diri Gisella dalam arti harga diri dan kehormatannya, namun akan berimbas pada sejumlah produk yang pernah ia bintangi. Sebab ketika seseorang menjadi brand ambasador sebuah produk maka sejatinya melekat pada dirinya produk yang ia bintangi.


Artinya ketika seorang bintang iklan bermasalah maka customer sebagian besar akan mempersepsikan produk yang ia bintangi pun bermasalah. Itulah mengapa sebagian besar brand memilih langsung mencabut atau memutus hubungan dengan seorang brand ambasador ketika yang bersangkutan bermasalah, terutama ketika menyangkut kasus asusila.


Kalau dipaksakan maka bukan hanya brand tersebut tidak mendapatkan empati tetapi juga akan mendapatkan penghakiman dari customer. Itulah mengapa brand - brand ternama memilih memutus kontrak dengan brand ambasador yang bermasalah daripada mempertahankan karena efek sampingnya akan panjang.


Dalam teori komunikasi pemasaran keberadaan brand ambasador merupakan bagian terintegrasi dalam sebuah aktivasi branding untuk imaje building sebuah produk. Maka secara otomatis brand atau produk akan menghadapi masalah ketika brand ambasadornya juga bermasalah.


Apalagi ketika produk tersebut menyasar customer kelas menengah, dimana karakter utama mereka memiliki berbagai pertimbangan sebelum memutuskan membeli sesuatu. Dan jelas pasti sikap seorang brand ambasador masuk dalam kriteria mereka.


Belum lagi ditinjau dari budaya dan customer, itu sudah pasti apa yang dilakukan Gisella akan memiliki efek samping terhadap brand yang pernah ia bintangi. Menurut Assael (2000:16) Cross-Cultural mempengaruhi konsumen dalam dua hal: Norma dan budaya lokal mempengaruhi cara bisnis yang dilakukan diluar negeri, serta pengaruh budaya terhadap strategi pemasaran.


Sekarang kita tarik kasus Gisella ke dalam budaya Indonesia atau sering disebutnya budaya ketimuran. Apa yang dilakukan Gisella jelas dinilai secara budaya sangat bermasalah dan persoalan berat. Mungkin kalau di luar negeri hal itu tidak begitu berdampak karena memiliki budaya yang berbeda, tetapi di Indonesia jelas itu kategori pelanggaran berat bukan pada hukum baku yang diberlakukan negara, tetapi lebih jauh dan ganas hukuman norma dari masyarakat karena ini terkait budaya.


Memang pasca Gisella terkena kasus asusila tersebut ia masih mengupload foto dengan konten promosi sebuah produk pewarna rambut. Namun seperti yang sudah saya uraikan di atas publik tidak empati lagi. Alih - laih tertarik dengan produk yang ia promosikan di instagram pribadinya justru Gisella dihakimi karena kasus asusila tersebut.


Jangan salahkah publik atau calon customer, tetapi Gisella sendiri yang harus menyalahkan diri sendiri karena ini murni keputusannya dia melakukan hal tersebut dan dengan kesadarannya sendiri.


Mungkin akan berbeda ketika Gisella yang tidak menyangkut norma atau tidak sengaja ia lakukan. Tetapi apa yang dilakukan Gisella memang sengaja dan dengan kesadarannya sendiri. Kesimpulannya adalah Anda yang menjadi brand ambasador atau Anda yang menggunakan brand ambasador maka berhati - hatilah memilih bintang iklan.


Ketika rekam jejak atau tingkah brand ambasador yang dipakai bermasalah maka akan memiliki efek samping terhadap produk. Ini bukan saja ditinjau dari norma, tetapi dalam teori komunikasi dan marketing pun akan mengatakan hal serupa. ****

Jumat Penuh Berkah

 




Mengulik Komunikasi Pemasaran Lembaga Pendidikan

 


Lembaga pendidikan swasta sekarang sepertinya sudah menjadi industri. Gejala ini bisa dilihat dari cara pengelola melakukan investasi dan cara mereka berdiri di dua kaki, kaki pertama adalah knowladge dan kaki kedua profite sebagai upaya untuk mengembangkan lembaga dan mempertahankan keberlangsungan proses pendidikan.


Maka oleh karena lembaga pendidikan sudah menjadi industri maka manajemen pemasarannya pun harus bisa menyesuaikan dengan komunikasi pemasaran industri pada produk komersial. Cara komunikasi mereka tidak bisa lagi mengandalkan konsep ala kadarnya, sekadar bikin spanduk, sekadar mendesain pamflet atau sekadar melakukan event.


Komunikasi mereka harus terkoneksi dengan brand lembaga itu sendiri karena pada prinsipnya komunikasi sebuah lembaga sama saja mereka sedang menawarkan produknya kepada calon customer dalam hal ini calon wali murid dan wali murid itu sendiri.


Semua tools komunikasi yang mereka buat harus terkoneksi satu sama lain sesuai dengan brand lembaga pendidikan tersebut. Ketika sebuah lembaga pendidikan membidik kelas menengah maka cara komunikasi pemasarnnya pun harus bisa menyesuaikan dengan karakter middle class.


Banyak orang tidak paham apa sesungguhnya yang dijual oleh sebuah lembaga pendidikan. Apakah kursi dan fasilitas yang ada di sekolah? Apakah guru? Kalau yang dijual lembaga pendidikan adalah fasilitas faktanya fasilitas itu tidak pernah bisa dinikmati sepenuhnya oleh customer dalam hal ini wali murid. 


Gedung yang bertingkat misalnya, apakah wali murid bisa mengklaim kalau itu miliknya?  Atau setidaknya bisa dipakai sesuka kita, tentu tidak kan? Kalau gedung yang dijual buat apa dibelanjakan untuk lembaga pendidiikan, bukankah akan lebih menguntungkan membangun gedung sendiri?


Lalu apa yang dijual oleh sebuah lembaga pendidikan? Value, itu yang dijual. Pemahaman ini sebenarnya yang menjadi filosofi lembaga pendidikan dan harus diketahui oleh pengelola khususnya orang yang ditugaskan menjadi seorang MarComm (Marketing Communication).


Kalau lembaga pendidikan di kota - kota besar seperti Jakarta memang sudah menerapkan konsep komunikasi pemasarannya yang mengadopsi brand produk komersial. Makanya rasanya juga pasti akan berbeda dengan lembaga pendidikan yang belum memakai konsep ini.


Value inilah yang nantinya dikoneksikan dengan brand lembaga pendidikan tersebut karena setiap lemabaga memiliki keunikan masing - masing yang menjadi kelebihan dan itu yang menjadi branding lembaga tersebut.


Dan harus diaktivasi melalui komunikasi pemasaran. Seringkali cara komunikasi pemasaran sebuah lembaga pendidikan tidak match dengan brand lembaga tersebut dan ini menyebabkan pesan yang disampaikan tidak jelas.


Dan secara prinsip sebenarnya sama saja manajemen komunikasi pemasaran lembaga pendidikan dengan brand - brand lainnya, semisal produk komersial, personal branding, coporate branding maupun city branding.


Pada bagian lain saya memaklumi karena terbatasnya sumber daya manusia yang memahami konsep dan teori komunikasi pemasaran sehingga seringkali tidak paham bagaimana cara komunikasi pemasaran sebuah lembaga pendidikan. 


Rata - rata lembaga pendidikan tercurahkan pada sistem akademik dan konsep pembelajaran tetapi abai terhadap bagaimana cara melakukan komunikasi pemasaran sesuai dengan brand lembaga tersebut. Hal ini berdampak pada persepsi yang kabur dari publik tentang positioning lembaga pendidikan tersebut.

Membedah Tagline Personal Karnoto Me Its Me


Tagline Me Its Me adalah karakter saya banget. Saya lebih menyukai pilihan itu salah tetapi hasil pilihan saya yang didasarkan pada proses panjang dan berfikir ketimbang pilihan itu benar tetapi diberikan oleh orang lain.


Sebelumnya saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dya Loretta, Dosen yang asyik saat kuliah Marketing Communication Advertising di Universitas Mercu Buana, Jakarta. Karena kalimat Me Its Me itu inspirasinya dari bukunya dia. Begitu baca judulnya dan ada kalimat Me Its Me, batin saya langsung ngedret seperti menemukan barang yang telah lama hilang.


Me Its Me artinya "Aku Adalah Aku", kalimat ini terus terang saya mencarinya lama banget. Me Its Me benar - benar emosional banget untuk saya, klop dengan karakter saya yang memang "susah diatur".  Itulah mengapa saya enggan masuk dalam struktur partai politik ketika sejumlah relasi dari beberapa partai politik mengajak saya menjadi salah satu pengurus partai. Saya sadar betul kalau masuk dalam struktur partai politik maka saya harus ikut aturan main parpol tersebut dan buat saya itu seperti "penjara".


Saya memang tipikal orang yang kalau memiliki keinginan pasti akan dikejar sampai benar - benar mentok dan tidak ada jalan lagi alias buntu. Kedua, saya memang orang yang merdeka, merdeka berfikir, merdeka menulis dan merdeka dalam soal sikap.


Jadi, untuk "mengimani" kebenaran sesuatu saya lebih banyak mendengarkan kata hati saya ketimbang orang lain. Sikap ini sebenarnya tidak lepas dari kehidupan masa kecil saya, dimana orang memberikan kebebasan yang bebas banget.


Saya mau gaul dengan anak - anak yang suka mabok, saya mau ngaji atau tidak, saya mau sekolah atau tidak dan saya mau jadi apapun benar - benar saya sendiri yang menentukan. Makanya saya meyakini apa yang pernah disampaikan seorang Psikolog bahwa karakter dewasa seseorang itu sangat dipengaruhi oleh masa kecil orang tersebut.


Makanya begitu tahu arti kalimat Me Its Me langsung saya lekatkan itu sebagai tagline personal. Karena pas banget dan emosinya langsung terkoneksi, sekali lagi terima kasih Bu Dya Loretta.


Nah, sekarang saya ingin mengkaji secara teoritis mengapa seseorang perlu memiliki tagline personal, apalagi bagi mereka seorang politisi, dimana tagline adalah salah satu item  branding dalam konteks ini adalah personality.


Saya cuma mengingatkan fungsi branding yang sering saya ulas dalam tulisan sebelumnya. Ada dua fungsi branding, pertama adalah sebagai pembeda atau bahasa Arabnya Al Furqon dan fungsi kedua adalah untuk memperkuat brand itu sendiri.


Didalam alur kerja branding salah satunya adalah tagline. Tagline adalah representasi dari brand itu sendiri. Jadi untuk melihat karakter sebuah personal brand maka lihatlah taglinenya.


Dulu kita mengenal Soetrisno Bachir dengan tagline "Hidup Adalah Perbuatan dan benar - benar itu mempresentasikan dia yang rajin melakukan aksi sosial. Saya percaya tagline itu menyatu dengan karakter Soetrisno Bachir.


Sejatinya memang tagline atau branding itu menyesuaikan karakter yang paling menonjol pada seseorang. Karena personal branding bukanlah merekayasa kepribadian seseorang. Misal, orang tersebut bukan orang stylish tetapi dibranding menjadi sosok orang stylihs maka percaya lah auranya tidak akan keluar dan yang bersangkutan pasti tidak akan nyaman karena dia tidak menjadi disi sendiri, melainkan menjadi orang lain.


Tagline Me Its Me adalah karakter saya banget sehingga tagline ini menyatu dan saya merasa nyaman karena ini benar - benar saya bukan orang lain. Kalau dihadapkan pada dua pilihan maka saya lebih menyukai pilihan itu salah tetapi hasil pilihan saya sendiri yang didasarkan pada proses panjang dan berfikir ketimbang pilihan itu benar tetapi diberikan oleh orang lain. 


Ada yang bertanya berarti dengan Agama juga tidak langsung percaya. Pada beberapa konteks iya, semisal saya pernah bertanya pada diri sendiri. "Kalau memang Islam, Qur;an dan kisah nabi itu referensi hidup dan semua hal ilmu ada disitu maka saya bertanya harusnya teori ilmu branding, marketing, komunikasi ada dong di dalam ketiganya itu. 


Saya pun mencari kisah atau literasi yang menunjukan tentang teori di atas dan sampai akhirnya saya benar - benar menemukan. Diantaranya soal personal branding Nabi Muhammad dengan tagline Muhammad Al Amin, saya juga menemukan kisah bagaimana public speaking dan ahli argumentasi menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupa perjalanan Nabi Muhammad. Semua temuan itu saya telah tuliskan dan upload di website pribadi saya.


Disitu saya menambah mantap bahwa memang benar Islam, Quran dan Nabi Muhammad tak akan pernah ketinggalan zaman karena semua ada disitu. Kita mau belajar ilmu apa itu pasti ada referensi dari Illahiah, pasti itu ! Asalkan kita mau mencarinya.


Kembali ke tema utama yaitu tagline personal. Kalau kita memerhatikan secara jeli dalam dunia politik pun sangat kental dengan teori ini. Dan yang memulainya itu SBY, dua kali dia Nyapres dan sarat kental dengan menggunaakn teori branding. Dan SBY pun belajar dari Barack Obama soal ini. Ini terlihat jelas dari gaya desain kampanya SBY dua kali nyapres bahkan tagline SBY pada periode kedua sama persis dengan Barack Omba, cuma berbeda bahasa saja.


Obama memakai tagline Foward sedangkan SBY Lanjutkan, artinya sama. Sebelum kuliah di MarComm saya memang awam dan tidak begitu paham teori branding dan komunikasi marketing advertising, saya baru benar - benar konsen dengan ini saat kuliah dan dikenalkan dengan teori - teori advertising, mulai dari psikologi warna, teknik membuat iklan dan lain sebagainya.


Asal tahu saja bahwa advertising adalah salah satu tools branding selain tools lain, seperti media planning, event dan public relation. Jadi, tagline personal itu bukan sekadar keindahan kata, bukan sekadar keren atau tidaknya kata tetapi kata dalam tagline itu harus punya ikatan emosi dengan brand personality kita. 


Dan saya merasakan ikatan emosi yang cukup kuat dengan tagline Me Its Me, Saya Adalah Saya. Saya bukan orang lain, tetapi saya sendiri Karnoto dengan keunikan karakter yang saya miliki. Saya lebih suka menjadi diri sendiri ketimbang menjadi orang lain.

Diri Kita Adalah Brand

 


Kata Mereka

Hubungi Via Whatsap

Contact Us

JOHN DOE
085921029049
Kota Serang, Banten