-->

I'M Karnoto

Founder Maharti Networking

September 04, 2021

Milenial, Politik dan Produk Komersial

 


Suku mereka bukan lagi Jawa, Sunda, Batak, Minang ataupun Ambon. Suku mereka kini adalah dunia maya. Demikian dikatakan Rhenald Kasali, Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia dalam salah satu karya bukunya. 

Buku ini ditulisa sebelum Pemilu 2019, artinya kalau saat itu saja Rhenal Kasali telah mengatakan suku baru milenial maka sudah bisa dibayangkan sekarang ini.

Perubahan ini tentu saja berimbas pada perubahan lainnya, seperti gaya hidup, selera pasar dan psikografis lainnya. Jangan heran kelau kemudian semua produk branded melakukan adaptasi yang besar - besar gaya komunikasi marketing mereka. Semua perusahaan besar menaruh orang khusus yang membaca selera mereka dalam sebuah unit yang namanya MarComm (Marketing Communication).

Menyerahkan perubahan besar ini dirasa tidak cukup hanya mengandalkan seorang public relation, itulah mengapa mereka merekrut orang - orang MarComm. Unit inilah yang bekerja secara kontinue mengatamati dan mengcreati strategi komunikasi marketing agar bisa menjangkau mereka.

Dalam rilisnya yang diberitakan Kompas.Com, edisi 23 Februari 2021, perusahaan media asal Inggris, We Are Social merilis laporan "Digital 2021: The Latest Insights Inti The State of Digital" yang diterbitkan pada 11 Februari 2021. Laporan ini berisi hasil riset mengenai pola pemakaian media sosial di sejumlah negara. termasuk di Indonesia.

Menurut laporan tersebut, rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial. Dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. 

Artinya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia setara dengan 61,8 persen dari total populasi pada Januari 2021. Angka ini juga meningkat 10 juta, atau sekitar 6,3 persen dibandingkan tahun lalu.

Jika mengacu pada hasil Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, ditemukan bahwa generasi milenial di Indonesia mencapai 69,38 juta atau sebesar 25,87 persen dari total jumlah generasi Z, yaitu generasi yang lahir antara kurun waktu 1997- 2021 sebanyak 75,49 juta jiwa. Definsi generasi milenial sendiri mereka yang lahir pada kurun waktu 1981- 1996 atau berusia antara 25 sampai 39 tahun.

Milenial Jadi Rebutan Partai Politik
Klaster milenial ini ternyata bukan hanya menjadi rebutan produk komersial, melainkan rebutan partai politik di Indonesia. Semua parpol berlomba - lomba menggaet klaster ini dengan berbagai cara. Adu strategi komunikasi marketing pun dilakukan partai politik untuk bisa merayu klaster milenial.

Semua parpol memiliki underbow yang dikhususnya untuk "menggarap" kalangan milenial. Tentu saja strategi ini terkait erat sumber daya manusia yang parpol miliki. Sayangnya kritik saya adalah politisi milenial saat ini masih menjadi pemain pinggiran meskipun memang ada beberapa, tetapi jumlahnya tidak banyak.

Para milenial dimanfaatkan parpol hanya pada pos hiburan, bukan pada persoalan rumit sebagaiman karakter asli politik. Menurut saya ini akan menjadi masalah serius kedepan bagi mereka ketika diberikan posisi strategis dalam politik karena tidak dibiasakan untuk menghadapi persoalan rumit dalam politik, tetapi hanya sebatas konten hiburan dan komedian. Padahal karakter politik itu sesungguhnya rumit, njlimet dan serius.

Pada akhirnya para milenial harus belajar sendiri soal kerumitan berpolitik, padahal sejatinya ini menjadi konten kaderisasi bagi mereka yang harusnya didapatkan dari partai politik. Maka jangan heran kalau sampai sekarang kendali strategis masih dipegang oleh politisi tua. 


Karnoto,Founder Maharti Networking.Eks.Jurnalis, pernah studi Ilmu Marketing Communication Advertising Univ.Mercu Buana Jakarta, Penulis Buku Speak Brand

0 komentar:

Kata Mereka

Chat Whatsap

Contact Us

JOHN DOE
085921029049
Kota Serang, Banten